Perjalanan ini diawali dengan hujan. Basah. Tergenang. bahkan ketika mentari mulai menampakkan diri, hujan masih mencari hati yang tak tau tepi. Yang akrab sepi.
Hujan meninggalkan banyak kenangan. Seperti kaset, gerimis mengundang kenangan. Berulang. Lebat.
Pada suatu hujan, kita berlari. Membagi kekhawatiran menjadi tawa berbalut dingin.
Di hujan yang lain kita mengerti kejujuran itu seperti pil pahit. Banyak yang tidak suka. Bahkan kita tau kita tidak siap. Kita menerima nya basah bersama.
Pada banyak hal, kita punya banyak kesamaan. Bahkan kesempatan persis sama berulang. Meski pilihan kita berbeda, selalu ada kenangan hujan yang kau bagi.
Aku tak kan sekuat dan setegarmu. Aku selalu membutuhkan anggukanmu, senyum penuh isyarat, atau genggaman tangan menguatkan.
Hujan yang kita lalui bersama seperti biasa.
Menunggu untuk kita lalui lagi.
Aku rindu.
Dalam perjalanan, Jawa-Bali
Untukmu, belahan jiwa.
Perempuan yang selalu kurindukan.
PAMIT
Waktu pamit, saya berjanji tidak akan pergi lama dan secepatnya kembali, engkau mengangguk.
Dan disini, tepat hari ketujuh, saya kembali.
Saya pergi dengan hati yang patah. Kini kembali pun dengan hati patah
Selamat kembali ma, semua ada waktunya kan.
Engkau mama terbaik yang ada di dunia.
Allah menganugerahkan kami engkau, dan memeluk mu kembali kepada Nya.
ZIARAH
Salah satu wasiat mama adalah ingin satu liang kubur bersama alm. Bapak. Alhamdulillah setelah 23 tahun berpisah, wasiat itu bisa terpenuhi.
TERIMA KASIH
Kata terimakasih terdengar sederhana tapi sungguh mewakili perasaan yang tidak sederhana.
Kehilangan dia yang dicinta, bagai dunia terbalik seketika. Mencoba memahami berbagai isyarat, bertanya-tanya : itulah pertanda? Itukah firasat?
Kehadiran orang tua, kerabat dan sahabat selama fisik dan batin ini mencoba memahami semuanya, sungguh sangat berarti.
Jabat tangan erat, pelukan hangat, tepukan lembut sampai sapa pesan via wa, FB,Ig menguatkan hati, ini yang terbaik. Doa-doa mengudara dari segala penjuru, meyakinkan inilah jalan Allah.
Mengingat pesan beliau satu persatu, mengeringkan duka ini. Biar tersimpan dalam hati mewujud alfatihah untuknya.
Terimakasih seluruh sahabat, orangtua dimana pun berada. Semoga doa doa kalian Allah balas dengan beribu kebaikan. Karena sungguh diri ini bersaksi, doa-doa kalian menguatkan dan sangat berarti.
BERSANDAR KEPADA ALLAH SWT
sandarkan rasa hanya padaNya niscaya tidak akan menemukan kekecewaan. tampak seperti kalimat yang klise, cuma teori atau terlalu melangit...hmhf tapi dalam kenyataan memang demikian, coba saja...Dia tidak pernah memberikan isyarat yang salah sayangnya hati terkadang ingin menang sendiri dan merekonstruksi isyarat itu, alhasil siap-siap saja kecewa (hikmah di tiap renungan)
TANGAN YANG KU RINDUKA
Setiap mengusap wajah setelah salam, hening memenuhi diriku. Tangan ini hanya tangan, tapi dia menyebabkan ngilu di dada. Mengundang hujan dan banjir di pelupuk mata.
Tangan yang tak sekuat tangan perempuan itu. Tangan yang apabila berjalan tak akan lepas memeluk tangannya. Mendampingi melepas lelah meski harus dibayar sekadar keliling kota. Atau memasuki toko dan memilih baju-baju. Lelah dihibur dengan kelelahan yang lain. Begitu tangan ini belajar di banyak kesempatan.
Tangan yang belakangan lebih mesra. Lebih dari sekedar bergandengan atau bergelayut. Tangan ini lebih akrab dengan perempuan itu. Bersemangat menyapa pagi dan petang. Mengaduk yang kini menjadi kenangan.
Tangan ini, menjadi sahabat yang luar biasa bagi tangan itu. Genggaman eratnya saling menguatkan. Saling menopang satu sama lain. Tangan yang padanya diamanatkan keikhlasan.
Adakah salah tangan ini?
Kini, tangan ini selalu merindu. Untuk perempuan itu, tangan ini mengadu. Merindukan tangan itu.
Almarhumah Ibu Nurpiah
MA.....,
Perpisahan kita mengajarkan banyak hal, terutama bab ikhlas.
Saya masih ingat, bab ini tidak engkau sampaikan seperti pengantar definisi pada umumnya. Untuk mencapai tingkatan Mukhlis, dirimu selalu mengajarkan memahami bagaimana arti sakit hati,marah terlebih dahulu dan tenang kemudian.
"Ikhlas itu bukan diucapkan, mbak. Tahu dulu bagaimana rasanya, baru dah bisa." Kalimatmu selalu mengingat kan bahwa bab ikhlas bukanlah bab yg mudah. Tetapi bukan tidak mungkin, karena engkaulah teladan untuk itu.
Ma, bab akhir dari ikhlas yang engkau ajarkan beraaaat sekali. Kita sering diskusi bagaimana kita mengatasi kegalauan kehilangan guru guru,teman dan saudara. Tapi kita selalu mandeg, saat kita sampai pada sub bab "jika kita kehilangan satu sama lain." Bagaimana mungkin aku bisa kehilangan tempatku mengaji kehidupan? Tapi tidak, dirimu bilang tidak akan bisa apa-apa jika aku mendahului mu. Perkara dahulu mendahului membuat kita berdua basah padahal tiada hujan.
Hari-hari terakhir kita bersama, q masih bisa merasakan genggaman mu. "Ikhlas ya mbak." Bab ikhlas ingin engkau akhiri. Tapi q menolak. Belajar tidak memiliki sesuatu,tidak mencintai sesuatu, hampir bisa kulakukan. Hampir bisa. Tapi tidak kepadamu,ma. Maka itulah yg berulang kali engkau sampaikan. Langsung atau secara batin.
Aku menyadari bagaimana engkau berusaha memberiku kekuatan menghadapi, kiamat kecil versimu: kehilangan orang yang paling dicintai. Maka tidak mencintai melebihi kepadaNya, itulah gol yang ingin engkau capai. "Kalo mama tidak ada,kamu harus kuat. Supaya adik-adikmu kuat." Katamu di suatu hari, ingin mengevaluasi bab ini. Dan, sepertinya q Ndak lulus ya ma.
Aku sangat ingin menang. Ingin mengenyahkan mimpi-mimpi buruk. Aku mulai sounding kesiap-siagaan bencana. Aku briefing teman hidupku. "Jika ada bencana, kamu harus bawa mama dan acya pergi duluan. Aku dan Yaya menyusul di belakang." Dengan pongahnya aku mempresentasikan teknis ini itu, dihadapanmu. Berharap, engkau tau, aku belum siap mengakhiri bab ikhlas ini. Dan mama tau kan? Mama diam, karena aku memilih untuk tidak lulus.
Terkadang, hanya kita berdua yang memahaminya ya, ma.hehehe
Terimakasih ma.
16/01 - 16/02
MASIH EDISI MENGENANG MAMA
Kalo dimunculkan pertanyaan : apa yang kamu pikirkan tentang buk nur?
Maka bisa dikumpulkan jawaban banyak, tapi koq saya yakin termasuk salah satu jawabannya adalah buk nur galak. Tapi bagi sahabat-sahabat saya yang lain juga mesti punya jawaban yang lain. Buk nur itu ibu yang asyik, bisa diajak becanda, tempat ngobrol. Hehe, iya nggak?
Begitulah mama.
Ibaratnya mama itu 'renyah dan garing di luar tapi lembut di dalam'.
Buat saya,dan mungkin adik-adik saya, mama adalah ibu super disiplin. Pendidikan ala militer terkenang saat kecil dulu. Bangun tidak boleh siang, kerjakan tugas sesuai pembagian tugasnya. Harus kerjakan sampe tuntas satu pekerjaan baru pindah ke pekerjaan lainnya.
Pernah suatu pagi saat aku SMA. Aku inget banget. Bangun kesiangan padahal harus menyetrika baju dan membersihkan rumah. Waktu dah mepet banget. Akhirnya aku simpulin sendiri, "tempat tidur kurapikan nanti saja pulang sekolah, aku harus lari sebelum ditinggal angkot terakhir. Kalo tidak aku akan terlambat dan harus mohon mohon supaya pak satpam bukain pagar."
Aku pamitan sama mama yang sudah mulai mencuci dikali. Pamitannya agak teriak dan cuss langsung kabur. Awut-awutan naik angkot. Rambut aku ikat sakenanya. Dan, Alhamdulillah dapet naik angkot.
Tapi, tahu tidak?
Mama ternyata lari nyusul! Dengan celana pendek kantong banyak kesayangannya (karena peninggalan bapak yang dipakai kerja) plus sepatu boots sampai lutut, teriak dari seberang jalan kurang lebih begini, "Heh,koyon!! Mau kemana? Turun!! Itu tempat tidur benerin dulu!"
Ya ampuuun sopir dan penumpang lain yang sudah tahu kegarangan mama memandangku. Dari tatapan mereka aku tahu mereka berseru "cepet turun mbak, daripada angkotnya digulingkan!!!"
Ya, harus apa? kudu turun. Lakukan. Lalu setelahnya? ya tetep berangkat ke sekolah. lari-lari kejar angkot, dapet, naik,trus turun di pasar galiran (daripada nunggu angkot ngetem) lari lagi sampai sekolah. Dan...ya begitulah, pagi itu kulalui diruang BP. 😆
Mama paling juara mengajarkan konsekuensi atas apa yang kita lakukan, atau menjadi pilihan kita.
Aku marah? Kesel? Ya ndaklah. Udah biasa. Dan tahu itulah kesalahanku sendiri. Waktu itu, aku sudah SMA, dan sudah tahu apa dan bagaimana. Ibaratnya sudah tahu mengharakati, sudah tau memaknai.
Bukan cuma soal itu saja harus disiplin. Mama juga banyak mengajarkan hidup itu harus seimbang. Berangkat mengaji lebih penting dari pergi sekolah. Seperti apa? Nanti kita sambung lagi. 😉
Untuk semua mama di dunia maupun yang sudah berpulang.
Alfatihah dan doa dari anak-anakmu
Semoga Allah SWT mengasihimu sebagaimana kasihmu yang tiada batas untuk anak-anakmu.
JANGAN SESALI
jangan sesali apapun,jangan salahkan siapapun,mari hapus kata tidak bisa dari hidup kita,semoga segala usaha kita dilapangkan Yang Kuasa#NasihatBimbo :) (y)
JASMERAH
Tulisan yang diingatkan FB ini bagai cambukan untuk menasihati diri sendiri. Kita pernah kuat walo badai menghadang.
Mungkin memang benar,hidup bagai putaran roda: pelajaran,ujian,begitu berulang. Kita kadang memerlukan hentakan momen untuk dapat muhasabah dan menemukan makna terdalam dari apa yang kita lalui saat ini.
Benar juga, kita tidak boleh melupakan sejarah, karena dari sejarah kita juga dapat menemukan solusi untuk menjadi lebih baik hari ini dari pada hari yang lalu.
MENDIDIK ANTARA TEORI DAN REALITA
Mendidik itu tidak boleh abai dari step perkembangan psikologi anak. Kesimpulan ini saya peroleh bukan hanya setelah mengikuti mata kuliah psikologi perkembangan dahulu, tetapi juga setelah merenungkan dan mendiskusikan bagaimana mama mendidik kami bertiga.
Tidak pernah terbayang bagaimana mama melalui perkembangan kami, tiga anak perempuan, sendiri. Sambil bekerja. Sebagai orang tua tentu beliau membayangkan bagaimana menghilangkan stigma anak yatim itu sulit diatur dan sederet tantangan lain yang terbayang. Belum lagi bagaimana beliau mengawal putri-putrinya agar selamat dunia akhirat. Begitu kira-kira.
Konsep anak yang beliau inginkan, semua hanya beliau dan Tuhan yang tau.
Maka, ketika kami membaca teori psikologi perkembangan anak. Membaca bagaimana anak menyelesaikan tahap perkembangannya di setiap step. Kami seperti mendapatkan contoh bagaimana melakukannya.
Mama bukan mama yang sempurna, juga mungkin saat mendidik kami tidak dari membaca buku psikologi perkembangan. Mama mendidik dan membesarkan dengan bekal naluri mama dibarengi doa. Tentu 99% ada campur tangan Allah dan takdirNya.
Ketika saya berbagai cerita tentang bagaimana mama galak dan disiplin, itu adalah sebagian kecil cerita bagaimana mama mendidik kami diawal- awal perkembangan kami. Tidak seterusnya mama seperti itu. Nyatanya, seperti kalimat awal tulisan ini. Yang saya rasakan, bersamaan dengan bertambahnya usia kami, mama tetep tegas dengan idealismenya namun menjadi humanis. Pola didikan mama turut beralih dari otoriter menjadi Egaliter.
Mama menjadi sosok yang selalu ada. Teman asik diskusi. Selalu nyambung diajak ngobrol apa aja. Bukan hanya pola mama untuk kami, tetapi juga sebaliknya, kami untuk mama. Menangis bersama. Tertawa bersama. Berbagi perhatian bersama.
Menulis tentang nya itu tidak ada habisnya. Seperti sahabat-sahabat semua. Menulis tentang orang tua dan pengalaman bagaimana kita dibesarkan oleh mereka, pasti banyak cerita dan kenangan serupa saya bahkan bisa lebih seru lagi. Tentu menyenangkan ketika kita belajar teori mendidik, pola asuh dan sejenisnya dengan merefleksikan pengalaman kita dengan orang tua kita. Dan berbagi lebih banyak sebagai ilmu praktis bagi saya pribadi yang baru belajar menjadi orang tua. Dan juga sahabat-sahabat lainnya yang sepemikiran. Begitu kira-kira dalam pemikiran saya.
KENANGAN
Bis
Ngebis lagi, dan merasakan keseruannya. Dari sekian banyak moda transportasi, bis adalah pilihan buat yang seneng santai. Menuju kota tertentu sambil duduk leyeh leyeh lalu buka FB dan menuliskan sesuatu di beranda. Bisa tulis apa saja. Dari yang sederhana sampe mungkin tulisan serius. Selain menulis, aktivitas lain bisa dilakukan misal memandangi pemandangan jalanan, terlebih lagi kalo bisnya jalan pelan-pelan. Seolah ban yang berputar berbisik : Ndak usah kesusu, nikmati aja prosesnya. Insyaallah sampe tujuan
Bis mungkin bukan transportasi aman. Yah, hari gini aman dan imun urusan masing-masing individu. Tetapi apabila harus memilih, saya cenderung yang menjatuhkan pilihan pada moda transportasi massal. Kereta api, kapal laut, bis, pesawat. Mengapa? Mungkin karena hati ini sudah merindukan suasana ramai serta keramahtamahan khas orang timur. Hal hal itu lebih sering dijumpai di moda transportasi massal.
Naik moda transportasi massal juga adalah salah satu usaha untuk menghidupkan ekonomi. Dari penumpang dengan segala macam tujuan dan latar belakang, pedagang asongan, sopir dan kenek juga pemilik kendaraan. Semua bergantung membentuk siklus keterikatan. Tidak terbayang jika tidak ada tranportasi massal.
Saya kangen dan rindu banget ngebis. Kalo sudah lama Ndak ngebis itu rasanya gimana yah. Naik bis seru, seseru putaran kenangan yang terlintas saat naik bis. Kenangan waktu kecil dulu, saat almarhum mama mengajak saya dan adik-adik ke Denpasar naik bis. Saya dan adik-adik akan buru-buru naik dan pilih kursi sendiri sendiri. Kenek akan sibuk dan minta mama atur anaknya, supaya dipangku dan duduk yang benar. Mama akan mandangi sang kenek dan bilang : saya bayar semua kursinya !!
Mama, love love buatmuuuu ❤️❤️❤️